RSS

Arsip Tag: renungan

Doakan Sajalah

Beberapa kali aku melayat menemukan pemandangan yang menurutku tidak seharusnya dilakukan dihadapan mayat. Saat banyak pelayat lain sedang membaca surah yasin beberapa pelayat lain menyaingi dengan suara tandingan, kali ini bukan ayat-ayat Qur’an melainkan gunjingan.

“Gimana matinya si pulan, matanya melotot apa ngga?”

“Tangannya kok ngga bisa dilurusin.”

“Hiii…mulutnya sampe mangap begitu!”

“Pantes aja matinya begitu durhaka sama suaminya kali.”

“Dia kan suka pelit sama tetangga, pantesan yg melayat sedikit banget.”

“Orang yg bawa keberatan banyak dosanya kali.”

Pake ngintip-ngintip orang mandiin, orang ngafanin, orang masukin ke kubur eh abis itu digunjingin.

Aku beristigfar, apa ngga sadar kalo yg duduk disebelahnya itu anaknya, istrinya, ibunya, tantenya, ponakannya, kakek, neneknya, si mayit. Gimana perasaan kamu kalo orang yg kamu cintai baru saja meninggal dan orang pada ngegunjingin dan mengata-ngatai orang yang kamu cintai yang jelas-jelas sudah tidak berdaya dan tidak dapat membela diri lagi?

Kita tidak tahu kapan kita mati dan kayak apa kita mati kelak. Rasa-rasanya tak pantas kita bergunjing dihadapan mayit. Siapa tahu kematian kita lebih buruk dibanding kematian si mayit yang kita gunjingkan, Auzubillah min zalik. Soalnya orang yang sudah berpulang ngga bisa balik lagi dan menceritakan pengalamannya. Andai saja bisa, tentunya kita tak akan melakukan hal-hal yang tidak berguna dan dimurkai Allah.

Sudah seharusnya saat melayat kita doakan si pulan yang telah berpulang dan jadikan renungan sudah siapkah kembali? Adakah bekal kita untuk kembali? Bukannya jadi ajang bergosip ria, ngegosipin orang yang masih hidup (walaupun ngga benar juga) masih bisa minta maaf, tapi ngegossipin orang yang sudah mati gimana minta maafnya?

Iklan
 
17 Komentar

Ditulis oleh pada Agustus 2, 2010 in think tank

 

Tag: , ,

Ketika Angin Tidak Bisa di Baca : sebuah catatan Pilkada

Saat masyarakat terhimpit oleh beban ekonomi yang kian lama kian berat merekapun limbung ketika mereka memilih pemimpin baru di daerah mereka. Seakan terpengaruh Badai Agatha mereka berputar-putar berubah-rubah arah dengan cepat, membuat para calon pemimpin dibuat terheran-heran. Dan hasil akhirpun kadang mencengangkan!

Ketika Calon pemimpin begitu royal di saat kampanye,Β  merekapun bertanya-tanya uang dari mana? Begitu banyak menghabiskan uang ntar kalo terpilih apa ngga balas dendam mengeruk kekayaan sebanyak-banyaknya untuk kepentingan pribadi?

KetikaΒ  dalam debat calon pemimpin, si calon begitu berkilau dengan visi misinya yang hebat, saat ditanya finalist begitu pandai menjawab dengan jawaban politis dan taktis. Masyarakat malah mencibir, hebatnya cuma ngomong doang, paling juga janji gombal belaka, kalo terpilih mana ingat dengan janji-janji manisnya?

Ketika si calon pemimpin hanya bermodal stiker sama poster doang, mereka membuang kedua benda itu, kami tidak butuh stiker atau poster. Kami butuh uang. Kalo ngga ada uang ngga usah mencalonkan diri. Lucunya Kadang mereka menerima beberapa amplop sekaligus tapi tidak memilih si pemberi amplop. Aneh bukan padahal diawal tadi saya sebutkan ketika si calon begitu royal masyarakat curiga, tidak royal dipandang sebelah mata. Apa mau mereka, susah dimengerti?

Yang pasti di era otonomi daerah ini, walau bagaimanapun putra daerahlah yang diagung-agungkan. Isu ini memang paling topserotop untuk mematikan langkah para calon lain “Yang Non Putra Daerah” walaupun dia menggandeng artis atau bintang top sebagai pasangannya. Kayaknya para calon pemimpin daerah yang ingin maju memperebutkan scudetto kursi sang pemimpin daerah jangan nekad mencalonkan diri di daerah tetangga.

Itulah masyarakat kita yang masih seperti angin, kadang bertiup ke utara, ke timur, ke tenggara, ke barat, ke selatan. Angin memang tak dapat dibaca.

 
3 Komentar

Ditulis oleh pada Juni 4, 2010 in note of the day

 

Tag: , , , ,

Marah dengan santun

Marah sangat manusiawi. Kalau marah rasanya ingin mencurahkan segala perasaan kecewa jengkel, tak diperdulikan, diremehkan, kepada orang yang membuat kita marah, atau kepada siapa saja yang berada di dekat kita. Apalagi di zaman serba canggih seperti sekarang ini uneg-uneg dan luapan kemarahan kita bisa kita expresikan di internet atau jejaring sosial seperti facebook, twitter, myspace, Multiply hingga youtube. Yang ternyata ada beberapa luapan kemarahan itu malah menjadi bumerang bagi si pembuat status yang sedang dilanda emosi. Makanya para orang tua pernah bilang kalau hati sedang marah dinaikkan dulu keatas kepala didiamkan sejenak dengan maksud kita diajak berpifikir dulu sebelum berbuat entah itu lewat lisan tulisan bahkan tindakan.Dengan diajak berfikir dahulu, kalaupun kita mengeluarkan kemarahan kita dengan santun dan bijaksana, bukan hujatan atau kata-kata kasar, hingga nama-nama binatang diseluruh kebun binatang kita sebutkan. Seperti kita ketahui lidah bisa setajam silet, pena bisa setajam pedang.
Hati-hatilah apabila kita sedang dipuncak kemarahan sebaiknya jauhkan gadget dari tangan kita untuk sementara waktu, beri waktu untuk kita sedikit untuk cooling down dan memikirkan kata-kata yang lebih santun atau halus kalau ingin mencurahakan perasaan kita. Atau ambil cara lama dengan menulis diari atau surat diselembar kertas, silakan luapkan emosi kita disitu lantas kertas itu dibakar atau curhat pada satu atau dua sahabat, bukan curhat keroyokan seperti di facebook atau twitter, dahulu aku ingat sekali kalau mau curhat aku pilih-pilih teman, soalnya teman juga bisa berkhianat. Cara kuno seperti itu kayaknya lebih aman dibandingkan curhat melalui surat elektronik atau bikin status difacebook atau di twitter, yang akan menjadi masalah bagi kita suatu hari kelak, entah dibenci, balik dihujat atau yang paling buruk dipidanakan. Bahkan karena satu ucapan lisan yang kasar bisa mentrigger orang untuk membunuh! Oleh sebab itu walaupun marah itu manusiawi, ungkapkanlah dengan santun, siapa tahu dengan begitu orang yang membuat kita marah jadi tak enak hati dan bebesar hati meminta maaf karena telah membuat kita marah

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada Januari 4, 2010 in Tak Berkategori

 

Tag: , , ,