RSS

Arsip Kategori: Banjarsiana

SPESIFIKASI KATA JATUH DALAM BAHASA BANJAR

Bahasa banjar memiliki kekayaan kata untuk kata jatuh. Entah mengapa Bahasa Banjar memiliki spesifikasi kata jatuh begitu banyak dan mendetail. Berikut beberapa yang kuketahui.

1. Tajarungkup : jatuh seperti orang menangkap kodok
2. Tatiharap : Jatuh tertelungkup
3. Terabah : jatuh kesamping biasanya pohon atau kendaraan
4. Tehantak ; terjatuh dengan pantat lebih dahulu
5. Tejungkang : jatuh ke belakang
6. Talingsir : jatuh terpeleset
7. Tapulanting : Jatuh jauh melambung keatas
8. Tacalubuk : jatuh ketempat becek atau lumpur
9. Tacabur : jatuh ke air
10.Tagulinding : jatuh berputar-putar

Selain ini Bahasa banjar juga mempunyai bahasa spesial untuk yang nyaris dan hampir jatuh kita sebut : Maintil πŸ™‚

 
8 Komentar

Ditulis oleh pada Februari 19, 2013 in Banjarsiana

 

Tag: , , ,

KETIKA BINJAI BERBUAH

385218_4305951566817_1501577734_n

Buah ini namanya buah binjai, kalau dikupas kulitnya kalau masak rasanya manis dan berserat seperti mangga tapi warna daging buahnya putih dan berbau khas, kalau masih mengkal rasanya asam didaerahku cacahan binjai mengkal biasanya dipakai buat campuran sambal terasi, biasa dikenal dengan sambal binjai.

Buah ini termasuk langka dan jarang berbuah. Bayangkan pohon binjai disebelah rumah mamaku berbuah saat aku melahirkan anak pertamaku, setelah itu pohonnya absen berbuah hingga anak pertamaku sekarang berusia sepuluh tahun baru berbuah lagi. Pohon binjai seperti pohon mahoni tinggi besar, saking besarnyadiameternya bisa sebesar tiga anak kecil pegangan melingkar.

Saking tingginya untuk mendapatkan buahnya tidak bisa dengan cara dipanjat atau dijolok, yang bisa dilakukan hanya menunggu buahnya jatuh. Kapan waktunya saat angin bertiup kencang dan hujan lebat. Karena jarang berbuah, setiap kali berbuah, buahnya banyak sekali. Para penunggu buah jatuh tidak hanya anak-anak kecil, bahkan orang dewasa dan nenek-nenek dan kakek-kakek. Bayangkan ramainya dibawah pohon binjai setiap kali angin bertiup dan hujan. Pohon binjai disamping rumah mama itu letaknya diperkuburan. Tapi setiap musim binjai seramnya perkuburan tak terlihat lagi, jangankan siang bahkan malampun banyak orang yang berebut binjai yang jatuh dengan senter dan lampu semprong masing-masing. Setiap kali bunyi….buk! buk! buk! entah itu anak-anak ibu-ibu, kakek-kakek berlomba menuju ke arah jatuhnya binjai dan bersorak riang bila mendapatkannya.

Hingga suatu hari saat berangin orang-orang mulai ramai berkumpul di bawah pohon binjai….terdengar buk! disemak-semak, kontan para pemburu binjai berebut menyerbu semak-semak oalah…bukannya binjai yang didapat melainkan ulekan, sementara si pembuat keisengan iparku terkekeh-kekeh di balik pintu dapur.

 
6 Komentar

Ditulis oleh pada Januari 13, 2013 in Banjarsiana