RSS

Ayah dalam Kenangan

17 Jan

Tulisan ini sebenarnya reposting tapi aku ingin mempublish sekali lagi, karena tepat hari ini 3 tahun yang lalu Ayahku kembali keharibaanNya. Untuk mengenang Beliau aku menuliskannya kembali.

Tiga tahun sudah berlalu tapi serasa kau masih berada disini
Mendengar suaramu, melihatmu lagi, bicara denganmu lagi.
Kadang rindu ini begitu membuncah hanya doa yang bisa kusampaikan

Kenangan-kenangan begitu kental dalam ingatanku
sekental ikatan darah antara kita.

Setiap kali aku mendengar lagu sapu lidi aku teringat suara baritonmu
Setiap kali aku melihat sapu tangan itu, aku teringat kau melap mulut kecilku yang berlepotan sambal sate
Setiap kali aku melihat Honda C7 merah, aku teringat kau memboncengku keliling kota dan berakhir di depot es teler langganan kita

Kau bukan Ayah yang pandai mengekspresikan cinta dengan kata-kata
Namun setiap tindakan dan perbuatanmu adalah cinta
Kau bukan Ayah yang kaya raya
Namun sepanjang hidupku aku tak pernah merasa kekurangan
Kau Bukan ayah yang perkasa dan berotot baja
Namun selama kau ada aku merasa aman
Kau bukan Ayah yang suka melarang
Tapi sekali kau melarang pantang kumenentang karena itu kebenaran

Ingat dongeng-dongengmu tentang negeri seberang
dongengmu menginspirasiku untuk pergi kesana
Ingat majalah-majalah dan buku cerita yang kau ceritakan
menginspirasiku untuk menulis

Kau selalu membangkitkan semangatku disaat aku jatuh
Kau selalu menguatkan aku disaatku terluka
Kau selalu membuatku tersenyum saat sedih melanda

Yah, Piala dunia datang lagi
Tapi kau tiada lagi menemaniku menonton setiap pertandingan
Walau kadang ditengah pertandingan kudengar ngorokmu dan kau terbangun saat aku ribut berteriak β€œGoal!”
Yah, sore ini aku minum teh, namun teh ini tak seperti buatanmu yang warnanya coklat tua dengan dua sendok gula. Rasanya tiada duanya karena dibuat dengan cinta.
teh ini tak sehangat perbincangan kita tentang apa saja yang terjadi di sekitar kita atau tentang keseharianku.

Yah, aku ingat saat aku sakit, kamu rela hujan-hujanan tengah malam mencarikan obatku.
Yah, aku ingat saat kau setia mengantar dan menjemputku disetiap kegiatan sekolahku
Yah, aku ingat saat kau orang yg pertama menyambutku di Bandara setelah 7 jam di atas Pasific.
Yah, kau hadir di momen-momen istimewa dalam hidupku
Yah, andai aku bisa terlahir kembali, tak ada yang kuinginkan selain menjadi anakmu.
Yah, kau memang tidak sempurna namun tapi bagiku engkau ayah yang terbaik yang pernah kumiliki.
Aku bersyukur memiliki Ayah sepertimu.
Kau memang tak akan terganti
Hingga saat kita bertemu nanti, I love you.

 
11 Komentar

Ditulis oleh pada Januari 17, 2011 in my life

 

11 responses to “Ayah dalam Kenangan

  1. chocoVanilla

    Januari 17, 2011 at 8:23 am

    Aduuh, sedih aku membacanya. Bagus sekali, inilah gambaran tentang para Ayah yang tak selalu mengungkapkan cinta dengan kata-kata. Namun selalu dengan perbuatan.

    Semoga Ayah bahagia di sana yaaa….

     
  2. Ade Truna

    Januari 17, 2011 at 11:05 am

    jadi ingat dulu tahun 80-an masa2 sepakbola perserikatan: jam 5 shubuh bapakku membangunkan, “De, bangun…hayu urang ka Senayan nonton sepakbola…” masih jelas dalam ingatan saya.

    *saya tinggal di Margahayu Raya (Bandung), ke Jkt pake bis, blm ada tol Cipularang…selalu via Puncak. Kadang2 aku bekal kantong plastik…tahu dong buat apa:mrgreen: ?

     
  3. ndaru

    Januari 18, 2011 at 12:25 am

    ah soal ayah..tak akan habis kata di dunia buat bercerita tentang ayah

     
  4. nh18

    Januari 18, 2011 at 8:28 am

    saya ini jarang bisa menye-menye …
    Namun jujur saja …
    membaca postingan ini …
    ada sesuatu yang menyesakkan dada …
    ada kerinduan yang pekat
    ada kecintaan yang kuat
    dan mata saya pun berkaca-kaca

    Semoga Ayah Ina Bahagia di Sana …

    Salam saya Ina

     
    • Ade Truna

      Januari 21, 2011 at 8:05 am

      kok sama ya…? jadi sedih saya😦

       
  5. Ceritaeka

    Januari 21, 2011 at 4:40 am

    Sedih…😦
    semoga beliau berisitrahat dengan tenang dan memori akan kebaikan beliau menjadi pegangan melangkah saat ini…

    salam,
    Eka

     
  6. advertiyha

    Januari 24, 2011 at 7:51 am

    Mbak Ina…😦
    jujur aku nangis bombay di depan monitor, di kantor, dan temen2 jadi pada tanya, setelah kutunjukkin pada sedih juga.. Ah, selalu tentang ayah, aku beneran gak bisa nahan tangis kalo udah cerita soal ayah atau ibu, pokoknya mereka itu spesial bgt deh,, cintaku selalu untuk mereka…πŸ™‚

    Semoga Ayah mbak In, siberikan tempat terindah disisi Allah SWT..πŸ™‚

     
  7. nh18

    Februari 25, 2011 at 4:52 am

    Ina …
    Saya tidak mau berkomentar …

    Tetapi for your information …
    Saya menangis !!!

    Salam saya Ina

    Semoga Ayahmu bahagia di sana

     
    • nh18

      Februari 25, 2011 at 4:53 am

      saya balik lagi ke sini …
      membaca lagi
      dan menangis lagi

       
      • partnerinvain

        Februari 25, 2011 at 7:53 am

        ………….Om aku ngga bisa komentar…speechless juga. Andai nulisnya pake kertas…kelihatan bekas air mataku.

         

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: