RSS

Arsip Bulanan: Januari 2011

Ayah dalam Kenangan

Tulisan ini sebenarnya reposting tapi aku ingin mempublish sekali lagi, karena tepat hari ini 3 tahun yang lalu Ayahku kembali keharibaanNya. Untuk mengenang Beliau aku menuliskannya kembali.

Tiga tahun sudah berlalu tapi serasa kau masih berada disini
Mendengar suaramu, melihatmu lagi, bicara denganmu lagi.
Kadang rindu ini begitu membuncah hanya doa yang bisa kusampaikan

Kenangan-kenangan begitu kental dalam ingatanku
sekental ikatan darah antara kita.

Setiap kali aku mendengar lagu sapu lidi aku teringat suara baritonmu
Setiap kali aku melihat sapu tangan itu, aku teringat kau melap mulut kecilku yang berlepotan sambal sate
Setiap kali aku melihat Honda C7 merah, aku teringat kau memboncengku keliling kota dan berakhir di depot es teler langganan kita

Kau bukan Ayah yang pandai mengekspresikan cinta dengan kata-kata
Namun setiap tindakan dan perbuatanmu adalah cinta
Kau bukan Ayah yang kaya raya
Namun sepanjang hidupku aku tak pernah merasa kekurangan
Kau Bukan ayah yang perkasa dan berotot baja
Namun selama kau ada aku merasa aman
Kau bukan Ayah yang suka melarang
Tapi sekali kau melarang pantang kumenentang karena itu kebenaran

Ingat dongeng-dongengmu tentang negeri seberang
dongengmu menginspirasiku untuk pergi kesana
Ingat majalah-majalah dan buku cerita yang kau ceritakan
menginspirasiku untuk menulis

Kau selalu membangkitkan semangatku disaat aku jatuh
Kau selalu menguatkan aku disaatku terluka
Kau selalu membuatku tersenyum saat sedih melanda

Yah, Piala dunia datang lagi
Tapi kau tiada lagi menemaniku menonton setiap pertandingan
Walau kadang ditengah pertandingan kudengar ngorokmu dan kau terbangun saat aku ribut berteriak “Goal!”
Yah, sore ini aku minum teh, namun teh ini tak seperti buatanmu yang warnanya coklat tua dengan dua sendok gula. Rasanya tiada duanya karena dibuat dengan cinta.
teh ini tak sehangat perbincangan kita tentang apa saja yang terjadi di sekitar kita atau tentang keseharianku.

Yah, aku ingat saat aku sakit, kamu rela hujan-hujanan tengah malam mencarikan obatku.
Yah, aku ingat saat kau setia mengantar dan menjemputku disetiap kegiatan sekolahku
Yah, aku ingat saat kau orang yg pertama menyambutku di Bandara setelah 7 jam di atas Pasific.
Yah, kau hadir di momen-momen istimewa dalam hidupku
Yah, andai aku bisa terlahir kembali, tak ada yang kuinginkan selain menjadi anakmu.
Yah, kau memang tidak sempurna namun tapi bagiku engkau ayah yang terbaik yang pernah kumiliki.
Aku bersyukur memiliki Ayah sepertimu.
Kau memang tak akan terganti
Hingga saat kita bertemu nanti, I love you.

 
11 Komentar

Ditulis oleh pada Januari 17, 2011 inci my life

 

Revenge

Belakangan ini aku merasa tertekan. Bukan! bukan karena listrik yang suka byar pret! Bukan juga karena aliran air PAM yang suka mampet. Bukan juga lantaran koneksi internet yang suka dodolidodolipret, apalagi gara-gara harga cabe meroket. Namun karena serangan gelap makhluk kecil. Kecil-kecil cabe rawit (kembali lagi ke cabe…wakakak…puasa cabe soalnya), sukanya nyolong, gigit-gigitin apa aja…yang paling menjengkelkan suka bener buang air kecil dan besar sembarangan. Jangankan ayam goreng sabun wangi kesayangan juga diembat. jangankan berkas dilemari kemeja andalan bolong-bolong…dan yang bikin aku naik darah lemari ama laci dijadiin toilet umum sama dia. Cukup! Cukup kesabaranku sudah habis! Pikiran bertandukkupun mulai menyala. Setelah menonton film Saw, Hellowen, Scream…aku mendapat inspirasi dari Doctor Hannibal Lecter. Kuputuskan untuk memasang jebakan….Kupasang jebakan diam-diam dimalam hari, kutunggu hasilnya keesokannya. Berhasil! Aku tertawa ala kunti….dapat kau makhluk pengganggu, tanpa ampun kutenggelamkan keranjang jebakan keair mengalir, hingga ia mati lemas tak berdaya. Ternyata, serangan demi serangan berlanjut, malah kian berani saja, teror tidak hanya dimalam hari, siang hari pun berani-beraninya ia menampakkan diri. Kesabaranku sudah habis apalagi melihat keranjang jebakanku, umpannya ludes….penghuninya ngabur. Weleh-weleh perlu cara yang lebih canggih menumpas habis makhluk pengganggu ini. Kuputuskan membeli permen….bukan permen sembarang permen….permen beracun! Kusebarkan….diam-diam disekeliling rumah…..benar saja keesokan harinya…disekitar rumah seperti ladang pembantaian….walaupun sedikit geli aku menekan rasa mualku untuk menguburkan makhluk-makhluk pengganggu….dengan senyum kemenangan! Tak ada lagi gangguan….tak ada lagi makanan yang hilang, tak ada lagi barang yang bolong. Mataku menggerling licik seperti tokoh antagonis dalam sinetron lengkap dengan tawa menggelegar. Maafkan aku ya teman….aku merasa tersiksa menyimpan semua ini. Semua perbuatanku yang begitu kejam dan berdarah dingin. Aku ingin mengaku untuk melepaskan beban hatiku….bahwasanya aku…aku telah membantai sekawanan tikus-tikus. Maaf….aku tak sanggup meneruskannya….biarkan aku mengambil nafas dulu….yang menyedihkannya lagi…aku….tidak merasa bersalah melakukannya!

Hmm……Hari ini aku mau berangkat kerja. Motorku mogok, dengan mendumal panjang pendek aku terpaksa mendorong motorku ke bengkel….setelah diperiksa sama mekaniknya ada beberapa kabel putus. Padahal…kemarin ngga kenapa-kenapa…si mekanik berkata, “kayaknya digigit tikus ini!” Deg! pikiranku langsung melayang, apakah ini pembalasan atas perbuatanku? Ah….tikus @#$$%%…..perang kita masih berlanjut!

 
9 Komentar

Ditulis oleh pada Januari 13, 2011 inci Uncategorized