RSS

Ketika Angin Tidak Bisa di Baca : sebuah catatan Pilkada

04 Jun

Saat masyarakat terhimpit oleh beban ekonomi yang kian lama kian berat merekapun limbung ketika mereka memilih pemimpin baru di daerah mereka. Seakan terpengaruh Badai Agatha mereka berputar-putar berubah-rubah arah dengan cepat, membuat para calon pemimpin dibuat terheran-heran. Dan hasil akhirpun kadang mencengangkan!

Ketika Calon pemimpin begitu royal di saat kampanye,Β  merekapun bertanya-tanya uang dari mana? Begitu banyak menghabiskan uang ntar kalo terpilih apa ngga balas dendam mengeruk kekayaan sebanyak-banyaknya untuk kepentingan pribadi?

KetikaΒ  dalam debat calon pemimpin, si calon begitu berkilau dengan visi misinya yang hebat, saat ditanya finalist begitu pandai menjawab dengan jawaban politis dan taktis. Masyarakat malah mencibir, hebatnya cuma ngomong doang, paling juga janji gombal belaka, kalo terpilih mana ingat dengan janji-janji manisnya?

Ketika si calon pemimpin hanya bermodal stiker sama poster doang, mereka membuang kedua benda itu, kami tidak butuh stiker atau poster. Kami butuh uang. Kalo ngga ada uang ngga usah mencalonkan diri. Lucunya Kadang mereka menerima beberapa amplop sekaligus tapi tidak memilih si pemberi amplop. Aneh bukan padahal diawal tadi saya sebutkan ketika si calon begitu royal masyarakat curiga, tidak royal dipandang sebelah mata. Apa mau mereka, susah dimengerti?

Yang pasti di era otonomi daerah ini, walau bagaimanapun putra daerahlah yang diagung-agungkan. Isu ini memang paling topserotop untuk mematikan langkah para calon lain “Yang Non Putra Daerah” walaupun dia menggandeng artis atau bintang top sebagai pasangannya. Kayaknya para calon pemimpin daerah yang ingin maju memperebutkan scudetto kursi sang pemimpin daerah jangan nekad mencalonkan diri di daerah tetangga.

Itulah masyarakat kita yang masih seperti angin, kadang bertiup ke utara, ke timur, ke tenggara, ke barat, ke selatan. Angin memang tak dapat dibaca.

 
3 Komentar

Ditulis oleh pada Juni 4, 2010 in note of the day

 

Tag: , , , ,

3 responses to “Ketika Angin Tidak Bisa di Baca : sebuah catatan Pilkada

  1. newberkeley

    Juni 6, 2010 at 10:59 am

    “Masyarakat telanjur kurang percaya kepada pemimpin. Daripada mereka tidak mendapat apa-apa dalam lima tahun kepemimpinan, lebih baik menerima uang saat pilkada, hitung-hitung sebagai uang muka”

     
  2. kunya

    Juni 7, 2010 at 1:57 am

    menurut gw masyarakat Indonesia masih belum siap dengan praktik demokrasi yang sekarang kita jalankan..
    ga semua orang sadar politik.. ga semua orang sadar akan akibat dari 5 detik di bilik suara bisa menentukan hidup bangsa dan negara untuk 5 tahun mendatang.. and in this context ignorant is not a bliss.. it’s a curse.. T-T..

     
  3. ninok eyiz

    Juni 9, 2010 at 9:14 am

    Huff..kentang.kena tanggung.ga milih jg nurani menentang.milih jg ujung-ujungnya sedih liat pemimpin yg lakunya seenak-enaknya..*binun.

    Pilkada mana niy?

    Danke ^_

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: